Pas tutorial,
Mia kepo banget pengen tau pembicaraanku sama Ericko. Saya gak jawab. Tapi dia
langsung bilang “Pasti ngomongin bola! Di twitter kamu ngetwit Moyes Moyes. Hahaha”
Jawaban hampir
benar. Bukan Moyes yang saya bicarakan dengan Ericko. Saya memberi selamat atas
gelar juara Barcelona.
Tapi, kalo
dipikir saya adalah orang yang terlalu banyak ngetwit atau ngeritwit hal
tentang sepak bola. Mungkin itu hanya hal yang saya bisa lakukan. Tentu saya
bukan pemain sepakbola (lagi), atau pemain futsal atau bahkan pelatih. Berkomentar,
itulah yang saya bisa. Begitu juga posting saya kali ini yang hanya akan
mengomentari beberapa momen akhir akhir ini.
Akhir pekan
minggu kedua di bulan Mei 2013. Bukan Piala Dunia, tetapi saya merasa bahwa
saya adalah ‘part of the history’. Ya, ada 3 momen yang menurut saya bisa saya
bagikan kepada anak cucu saya yang mungkin suatu saat nanti membaca blog saya
ini :v .
Pertama. Adalah
gol ke 202 dan ke 203 Frank Lampard.
Bertandang ke
kandang Aston Villa yang butuh kemenangan agar terhindar dari jurang degradasi.
Tapi perlu dicatat, Chelsea juga sangat butuh kemenangan demi memastikan tiket
Liga Champions musim depan.
Baru beberapa
menit, dengan tendangan tak sempurna, Benteke justru mampu mengecoh Petr Cech
yang terlihat mati langkah. Aston Villa unggul 1-0. Niat mengejar
ketertinggalan, Ramires justru memperoleh kartu kuning kedua akibat dianggap
mengangkat kaki terlalu tinggi. Butuh kemenangan justru tertinggal 1-0 dan
bermain dengan 10 pemain.
Di babak
kedua asa itu datang. Giliran Benteke yang memperoleh kartu kuning kedua akibat
kaki terlalu tinggi terhadap John Terry. 10 melawan 10.
Kemudian keajaiban
itu datang. Bergerak dari kanan dengan umpan Eden Hazard, Lampard menaklukkan
Brad Guzan di pojok kanan atas gawangnya. 1-1. Sekaligus gol ke 202 Lampard di
Chelsea. Menyamai gol Bobby Tambling.
Sekali lagi.
Hari itu menjadi harinya Super Lamps. Lagi lagi Hazard. Kali ini dia bergerak
dari kiri, melewati beberapa pemain dan mengirim umpan tarik ke tengah. Dengan sedikit
sontekan Lampard mencetak gol. Skor 1-2. Gol ke 203 Lampard melewati rekor
Bobby Tambling. Sekaligus membawa Chelsea lolos ke Liga Champions musim depan. Jujur,
saya berkata “Edaaaan” ketika Lampard melesakkan gol ke 203-nya.
Kedua. Piala
pertama Wigan setelah 81 tahun.
Iba rasanya
melihat Wigan ditaklukkan Arsenal 4-1 dua hari yang lalu. Itu mengirim mereka
menjadi tim terakhir yang harus degradasi ke divisi Championship musim depan.
Namun di
hari Sabtu sebelumnya, saya menyaksikan betapa hebatnya, betapa luar biasanya
mental pemain Wigan saat melawan Manchester City.
Saya memuji
permainan Espinoza, McManaman dan Shaun Maloney. Menurut saya ketiga pemain
tersebut adalah pembeda di babak kedua. Meskipun Ben Watson sang supersub lah
yang akhirnya menentukan kemenangan Wigan di menit terakhir pertandingan.
Bukan salah
Aguero, bukan salah Yaya Toure atau bahkan Joe Hart. Ini murni semangat juang
pemain Wigan yang luar biasa.
Tentang Joe
Hart, dia memang menjadi pembicaraan hangat. Di laga final tersebut, merupakan
laga debut Joe Hart di Piala FA. Sebelumnya City memansang Costel Pantilimon di
bawah mistar. Dan itu juga yang menurut saya menjadi kunci City menghentikan
laju Chelsea di semifinal akibat bola bola atas ‘favorit’ Demba Ba selalu
didahului Pantilimon.
Bisa jadi
Joe Hart belum panas. Bisa jadi apa pun alasannya. Laga final adalah final. Kesalahan
sekecil apa pun memang mampu merubah takdir.
Tetap
semangat, Wigan!
Ketiga. Menyaksikan
laga kandang terakhir Sir Alex Ferguson.
Guard of
Honour untuk Sir Alex, menandai 26 karir kepelatihannya bersama Manchester
United. Saya bukan penggemar Sir Alex. Saya tidak menyukai gaya bicaranya di
depan media, selalu mencari kesalahan wasit ketika timnya dirugikan. Namun berkat
dirinya, transfer yang dia lakukan, membeli orang Perancis dari Leeds United. Yang
kemudian menginspirasi ayah saya untuk memberi sebagian namanya kepada saya.
Eric Cantona. #RespectSirAlex
Nikmati
masa senjamu, sang jenius. Selalu sehat dan di dalam lindungan Tuhan :))

!doctype>



